Manhaj Wahdah Islamiyah


TAQDIM

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل الله فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلا الله  وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، (يا أيها الذين أمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون) (يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساءً واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا) (يا أيها الذين أمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما) أما بعد، فإن أصدق الحديث كتاب الله، وأحسن الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة .وكل ضلالة في النار.

Amma ba'du, maka sesungguhnya sangat jelas bagi setiap muslim yang menginginkan keselamatan bagi dirinya di dunia dan akhirat, bahwa berpegang teguh kepada Kitabullah Ta'ala dan Sunnah RasulNya saw berdasarkan pemahaman As Salaf Ash Shaleh itulah keselamatan yang sesungguhnya.

Sebagaimana juga telah jelas bahwa yang dimaksud dengan terminologi As Salaf Ash Shaleh adalah kurun masa yang mendapatkan keutamaan dari Allah ( Al Quruun Al Mufadhdhalah) yang dipimpin oleh Rasulullah saw, lalu diikuti oleh para sahabat mulia beliau sepeninggal beliau, serta para pengikut yang mengikuti mereka dengan ihsan. Merekalah generasi yang dinyatakan oleh Allah Ta'ala :

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيم           
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." ) At Taubah :100 (
Sebagaimana RasulNya yang mulia juga telah memuji mereka dalam sabdanya :
خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم
"Sebaik-baik manusia adalah  di zamanku, kemudian yang mengikuti mereka, kemudian yang mengikuti mereka…" ( HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, maka sesungguhnya Organisasi Wahdah Islamiyah –sejak awal pendiriannya- senantiasa berusaha untuk termasuk ke dalam golongan yang mendapatkan karunia untuk menapaki jejak mereka dan mengikuti sunnah mereka dalam seluruh persoalan Ad Din.
Dan manhaj berikut ini tidak lain merupakan bukti keinginan kuat organisasi ini untuk mewujudkan hal tersebut.

Akhirnya, kita sungguh-sungguh berdo'a kepada Allah Azza wa Jalla agar ia menyatukan hati-hati kita, dan mengumpulkan kata hati kita di atas kebenaran yang jelas.
Dan doa akhir kita tiada lain selain, Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.
AQIDAH DAN MANHAJ
WAHDAH ISLAMIYAH

Segala puji hanya milik Allah Rabb seluruh alam semesta. Shalawat dan salam atas Rasulullah, kerabat, dan para sahabat beliau, serta siapa pun yang mengikuti beliau. Amma ba'du,
Maka sesungguhnya Manhaj Wahdah Islamiyah dalam masalah aqidah dan da'wah tersimpul ke dalam berikut ini :

I.    Sumber Talaqqi dan Pengambilan Dalil :
  • Kami mengimani bahwa agama yang haq adalah yang tercakup dalam kitabullah (Al Qur'an) dan Sunnah suci yang shahih baik yang mutawatir maupun yang ahad, serta dalil lain yang terlahir dari keduanya yang berupa ijma' yang terbukti kebenarannya, atau qiyas yang shahih maupun kaidah yang digali dari pembahasan masalah-masalah juz'iyyah dari Syariat Islam, seperti kaidah Sadd Adz Dzari'ah. Allah Ta'ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُول إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.” ( An Nisaa’ : 59 )

Dan Allah Jalla Jalaaluhu juga berfirman :
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ  فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” ( Al Ahzab : 36 )

  • Dan kami  mengimani bahwa agama ini tidak diambil kecuali (berdasarkan) atas pemahaman As Salaf Ash Shaleh-semoga Allah meridhai mereka-. Dan mereka itu adalah para sahabat dan siapa yang mengikuti jalannya dari kalangan para ulama yang telah ( mendapat dan membawa ) petunjuk. Allah Ta’ala berfirman :
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” ( An Nisa’ : 115 )
  • Dan kami mengimani bahwa keislaman seorang muslim itu tidak sempurna sehingga terbebas dari segala penghalang yang menyelisihi Ad Din ; baik yang berupa pemikiran-pemikiran, adat-adat kebiasaan, tradisi-tradisi, peraturan-peraturan, maupun undang-undang,  dan berserah diri sepenuhnya kepada perintah Allah, dengan tidak mendahuluiNya. Allah berfirman :
 . يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah.” ( Al Hujurat : 1 )
Dan barang siapa yang berhukum kepada hukum selain syariat Allah dengan memandang kehalalan hal itu, atau mengingkari hukum Allah, atau mengutamakan hukum selain hukum Allah maka sungguh dia telah kafir. Allah Ta’ala berfirman :

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” ( Al Maidah : 44 )

II. Rukun Iman yang enam :

  • Kami mengimani Wujud Allah sesuai dengan kebesaran Allah,  Ia tidak pernah didahului oleh  ketiadaan dan tidak akan diikuti oleh kefanaan. Dan Dia Maha Suci dari mempunyai bapak, anak dan juga istri,  dan bahwasanya Dia berada di atas langit yang tujuh, bersemayam di atas Arsy-Nya berbeda dengan mahlukNya. Dan kami berlepas diri pandangan Al-Ittihadiyah dan Al-Hululiyah. Allah Ta’ala berfirman :
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ
      “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir. “ ( Al Hadid : 3 )
       Ia juga berfirman :

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

      “Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,” ( Al Ikhlas : 3 )
      Dan Ia juga berfirman :
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
      “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy.” ( Yunus : 3 )
  • Kami mengimani kesempurnaan rububiyah Allah terhadap makhluk-Nya. Dan Allah adalah sendiri dalam penciptaan, kekuasaan dan pengaturan. Kami berlepas diri dari orang yang mempersekutukan-Nya dengan sesuatu dalam hal tersebut, bahkan Kami kufur kepada setiap ( yang mengaku ) Rabb  selainNya. Allah Ta’ala berfirman :
أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” ( Al A’raf : 54 )
Dan kami senantiasa memperingatkan untuk tidak mendatangi para ahli nujum dan tukang sihir dan orang-orang yang menganggap dirinya memiliki kekhususan rububiyah, dengan tetap membenarkan bahwa di dunia ini ada ilmu sihir dan tukang sihir, dan bahwa sihir itu ada yang hakiki ( benar-benar terjadi ) namun ia tidak menimbulkan mudharat kecuali atas izin Allah, dan ada pula yang hanya berupa pengkhayalan ( tukang sihir terhadap orang yang disihir ).
  • Dan kami mengimani  kesempurnaan nama-nama dan sifat-sifat Allah, dan menetapkannya sesuai dengan kebesaran Allah tanpa menyelewengkan maknanya, atau menafikannya, atau menyebutkan kaifiyatnya, atau menyerupakanNya ( dengan makhluk ). Allah Ta’ala berfirman :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“ Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” ( Asy Syura : 11 )
 Dan kami tidak membedakan satupun sifat Rabb kami, baik sifat Allah yang dzatiyah dengan sifatNya yang ikhtiyariyah. Akan tetapi kami mengimani semua ( nash ) yang menyebutkan sifat-sifat Allah yang tinggi, seperti firman Allah :
وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
" Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan." ( Ar Rahman :27 )  
                                   بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ
". (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki "   ( Al Maidah : 64 )
                                    الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
  “ (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy. " ( Thaaha : 5 ),
                                       وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا
"Dan Aمlah bercakap-cakap dengan Musa dengan sebenar-benar-Nya" ( An Nisa : 164 ),
                                  وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا
“dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.” ( Al Fajr : 22 )
                                  رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Allah telah ridha kepada mereka dan mereka telah ridha kepada Allah" ( At Taubah : 100 ),
                                                 يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ     
 " Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah" ( Al Maidah : 54 ),
                                                    وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ
 "Allah marah ( murka ) kepadanya" ( An Nisa : 93 )

Dan juga yang terdapat dalam sunnah Rasulullah saw :

              ينزل ربنا تبارك و تعالى في كل ليلة الى السماء الدنيا
"Allah akan turun pada setiap malam ke langit dunia"

            يضحك الله الى رجلين قتل أحدهما الأخر تم يدخلان الجنة
"Allah tertawa kepada dua orang lelaki yang telah membunuh salah satu diantaranya kemudian memasukkannya ke dalam surga ".
Dan kami berlepas diri dari pandangan golongan mu’aththilah, musyabbihah, mufawwidhah, dan mu’awwilah , serta memperingatkan terhadap mereka dengan peringatan yang keras.
·         Kami mengimani kesempurnaan uluhiyah Allah, dan bahwa Allah adalah satu-satunya sembahan yang haq, sedangkan segala ( sembahan )  selainNya adalah bathil. Dan kami berlepas diri dari segala kesyirikan terhadap Allah sekecil apapun dalam menyembelih, bernazar, sujud kepada selain Allah, demikian pula dalam beristigatsah dan meminta pertolongan -dalam hal-hal yang diluar  kemampuan manusia- kepada selain Allah, serta meminta berkah dari para makhluq. Allah Ta’ala berfirman :
رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا
“Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” ( Maryam : 65 )
Dan Allah juga berfirman :
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ(162)لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
“Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". ( Al An’am : 162-163 )
 Dan kami membenci  kesyirikan dan orang-orang musyrik, dan kami memperingatkan terhadap segala thoghut dan sembahan yang bathil. Dan kami meyakini  keharaman berbagai bentuk sarana yang mengantar pada kesyirikan, seperti mengagungkan kuburan, menjadikannya sebagai ‘ied (sesuatu yang didatangi berulang-ulang),dan bersumpah selain Allah. Dan kami memutuskan seluruh sebab-sebab ( kesyirikan ) seperti bersikap ghuluw ( berlebih-lebihan ) kepada orang-orang shaleh dan meniru orang-orang musyrik.
·         Dan kami mengimani malaikat-malaikat Allah, dan bahwa mereka adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah dari cahaya. Mereka tidak durhaka kepada Allah dan melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman :
             بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ(26)لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ
“Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya.” ( Al Anbiya’ : 26-27 )
 Dan kami mengimani nama-nama, sifat-sifat fisik, perilaku mereka, dan pekerjaan mereka yang bermacam-macam. Dan kami senantiasa menjaga hak-hak mereka serta memberikan wala’ ( loyalitas ) kepada mereka.
·         Kami mengimani risalah-risalah Allah Jalla wa ‘Ala, dan mengimani bahwa risalah-risalah itu diturunkan dari langit untuk menegakkan tauhid dan untuk memperbaiki makhluq. Allah Ta’ala berfirman :


لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” ( Al Hadid : 25 )
 Dan kami mengimani bahwa risalah-risalah terdahulu ( sebelum risalah Muhammad saw ) telah mengalami banyak penyimpangan/penyelewengan dan perubahan dari ulama-ulama yang jahat yang terdapat dalam berbagai millah tersebut. Allah berfirman :
فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُون
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” ( Al Baqarah : 79 )
 Dan ( kami juga mengimani ) bahwa risalah-risalah terdahulu itu telah dihapus oleh syariat Islam yang kekal. Allah Jalla Jalaaluhu berfirman :
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.” ( Al Maidah : 48 )
·         Dan kami mengimani bahwa kitab-kitab itu Kalamullah yang diwahyukan Allah kepada ciptaanNya, diantaranya adalah Al Qur'an.  Ia adalah Kalamullah, baik lafadz dan maknanya. Dan Allah-lah yang berbicara dengan suara dan huruf,
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ(192)نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ(193)عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ(194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ
“Dan sesungguhnya Al Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” ( Asy Syu’ara : 192-195 )
Dan Nabi kita saw bersabda :
    ألا رجل يحملني الى قومه فان قريشا منعوني أن أبلغ كلام ربي
“Tidak adakah seseorang yang mau membawaku kepada kaumnya, karena orang-orang Quraisy telah menghalangiku untuk menyampaikan Kalam Tuhanku.”

Dan Allah berbicara sebagaimana yang diinginkanNya dan kapan saja Ia  mau.
                                         وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا
“ Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” ( An Nisa’ : 164 )
·         Dan kami mengimani bahwa Al Qur'an adalah kitab yang suci, yang tidak ada satu kebatilanpun di dalamnya. Dan bahwasanya Al Qur'an itu terpelihara dari segala penyelewengan, penambahan serta pengurangan. Dan barang siapa berpandangan selain ini maka ia telah kafir, Allah berfirman :
                            إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” ( Al Hijr : 9 )

·         Dan kami mengimani Rasul-rasul Allah dan Nabi-nabi-Nya ;
       رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ
“(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.” ( An Nisa’ : 165 )
 Dan bahwa mereka itu adalah hamba-hamba yang dipilih oleh Allah untuk  mentaati Allah dan untuk menyebarkan risalahNya, dan mereka pun melaksanakannya sesuai dengan yang diperintahkan pada mereka  dengan sempurna. Allah Ta’ala berfirman :
              تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur'an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,” ( Al Furqan : 1 )
 Dan para Rasul serta Nabi itu tidak memiliki kekhususan dalam rububiyah dan tidak ada hak dalam ubudiyah (untuk disembah). Allah Ta’ala berfirman :
قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ
“Katakanlah: "Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” ( Al An’am : 50 )
·         Dan kami mengimani bahwa Allah telah membekali mereka dengan mu'jizat-mu'jizat dari sisiNya untuk menampakkan kebenaran mereka kepada seluruh penghuni alam, dan bahwa Allah telah mengangkat Ibrahim sebagai kekasihNya, dan telah bercakap dengan Musa secara langsung, dan Isa bin Maryam adalah kalimat Allah yang diberikan pada Maryam, kemudian ditiupkan ruh padanya, dan dia adalah hamba Allah dan RasulNya.
·         Kami mengimani bahwasanya Muhammad saw adalah penghulu  dan penutup mereka, Allah Ta’ala berfirman :
قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
 “Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk". ( Al A’raaf : 158 )
Dan  bahwa beliau telah dikhususkan dengan beberapa kekhususan seperti penghalalan ghanimah, pertolongan melalui rasa takut yang ditanamkan pada musuh-musuhnya, keumuman risalahnya, dan kami mengimani keutamaan dan kesempurnaan beliau saw serta segala bukti-bukti kenabiannya. Dan kami tidak mengingkari/mendustakan sedikitpun  hal ini.
·         Dan kami mengimani terputusnya wahyu setelah kematian beliau ( Rasulullah saw ), dan barang siapa yang meyakini selain hal ini maka sungguh ia telah kafir.
·         Dan kami mengimani hari akhir dan segala sesuatu yang menyertainya, maka kami mengimani tanda-tandanya yang besar ( Al Kubra ), seperti: ( keluarnya ) Dajjal, turunnya Isa bin Maryam, ( munculnya )Ya'juj dan Ma'juj, ( adanya ) hewan yang dapat berbicara pada manusia dan terbitnya matahari dari barat. Nabi saw bersabda:
انها لن تقوم الساعة حتى ترون قبلها عشر أيات – فذكر - : الدجال والدابة و طلوع الشمس من مغربها و نزول عيسى و يأجوج ومأجوج و ثلاثة خسوف :  خسف بالمشرق وخسف بالمغرب وخسف بجزيرة العرب ( رواه البخاري )
“Sesunguhnya hari kiamat tidak akan terjadi hingga kalian menyaksikan sebelumnya sepuluh tanda –lalu beliau menyebutkan- : Dajjal, hewan ( yang berbicara ), terbitnya matahari dari tempatnya terbenam, turunnya Isa, Ya’juj dan Ma’juj, dan ( terjadinya ) tiga gerhana : gerhana di Timur, gerhana di Barat, dan gerhana di Jazirah Arab…”
 ( HR. Bukhari )
Kami juga mengimani tanda-tanda kiamat yang kecil ( Ash Shughra ) seperti, banyaknya pembunuhan dan kekacauan serta tersebarnya kemaksiatan (kekejian), dan semakin sedikitnya ilmu.
>Dan kami mengimani adzab dan nikmat kubur, dan kami mengimani  hari kebangkitan beserta apa yang menyertainya  yang berupa kedahsyatan-kedahsyatan  hari kiamat, dan apapun yang mengiringinya,  seperti: pengumpulan (seluruh manusia), hisab dan pembalasan ;
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ
“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” ( Az Zumar : 68 )
dan perincian tentang semua hal itu terdapat dalam Kitabullah yang suci. Semua itu kami imani sesuai dengan hakikat yang sebenarnya, maka kami membenarkan adanya shirath (titian) dan bahwa ia adalah jembatan yang diletakkan di atas neraka jahannam, yang manusia dapat melewatinya dengan selamat  sesuai dengan kadar amalannya. Dan kami membenarkan adanya mizan (timbangan) dan ia adalah mizan yang hakiki yang memiliki dua sisi, dan kami berlepas diri kepada Allah dari penakwilan-penakwilan Mu'tazilah ( dalam masalah ini ).
·         Dan kami mengimani  apa yang menyangkut perkara ini yang terdapat dalam As sunnah yang shahih walaupun berupa hadits ahad, dan kami membenarkan hadits-hadits tentang syafa’at dan haudh (telaga) Al Musthafa Rasulullah saw, serta penyembelihan terhadap maut ( kematian ) diantara surga dan neraka.
·         Dan kami mengimani bahwasanya nikmat yang terbesar bagi penghuni syurga adalah keberuntungan melihat wajah Allah Jalla wa 'Ala sebagaimana telah terdapat dalam nash-nash yang mutawatir dan telah disepakati oleh para salaf. Allah Ta’ala berfirman:
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya ( yaitu melihat Allah ).” ( Yunus : 26 )
·          Dan kami mengimani surga dan neraka dan bahwasanya ( keduanya ) telah ada sekarang, dan bahwa ia akan kekal dan tidak fana. Allah Ta’ala berfirman :
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” ( Ali Imran : 133 )
Allah Ta’ala juga berfirman :
فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ
“Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang telah disediakan bagi orang-orang kafir.” ( Al Baqarah : 29 )
·         Dan kami mengimani taqdir yang baik dan buruk, dan bahwa Allah telah mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang sementara terjadi dan apa yang belum terjadi dan   bagaimana terjadinya ( sesuatu yang belum terjadi itu ) jika terjadi secara mujmal (global) dan tafsil (terperinci), dan bahwa takdir makhluk-makhlukNya telah terulis di Lauh Mahfudz. Allah Ta’ala berfirman :
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” ( Al Hajj : 70 )

Dan bahwa apa yang dikehendaki Allah itulah yang akan terjadi, sementara yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi, dan segala sesuatu tersebut terjadi sesuai ilmu  dan kehendak Allah. Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman :
                           وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ
“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.” ( Al Qashash : 68 )
·         Dan kami mengimani bahwa Allah pencipta segala sesuatu,
                اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ
“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” ( Az Zumar : 62 )
 Dan  bahwasanya para hamba beserta perbuatannya adalah merupakan ciptaan Allah Jalla wa 'Ala,
                               وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu". ( Ash Shaaffaat : 96 )
 Dan bahwasanya  perbuatan  para hamba adalah merupakan  perbuatannya sendiri, namun bukan merupakan ciptaan mereka, dan mereka melakukannya dengan  pilihan mereka sendiri, namun tetap dalam lingkup masyiah ( kehendak )  Allah Jalla wa 'Ala,
                    وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” ( At Takwir : 29 )
Dan kami  berlepas diri dari perkataan golongan Jabariyah dan Qadariyah.
·         Dan kami mengimani adanya pengaruh dari sebab-sebab ( suatu perbuatan ) sesuai dengan idzin Allah, dan kami juga menetapkan adanya hikmah bagi Allah dalam semua perbuatan dan ketetapanNya, dan kami berlepas diri dari apa yang dikatakan oleh golongan Asy’ariyyah ( dalam masalah ini ).

III.  AL  IMAN

  • Kami mengimani bahwa iman itu adalah perkataan dan perbuatan ; ( yang terdiri dari) perkataan hati dan lisan, perbuatan hati dan jasmani. Iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Allah Ta’ala berfirman :
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ
“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu'min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (Al Fath : 4 )
Dan bahwasanya menyatakan istitsna’ dalam iman( dengan mengatakan : “Saya mu’min. Insya Allah” )  adalah haq, bila maksudnya  untuk tidak menetapkan/memastikan kesempurnaan amalan-amalan imaniyah, dan bukan untuk memastikan diterimanya apa-apa yang dilakukannya. Dan bahwasanya manusia itu berbeda - beda tingkat keimananya baik yang secara batin maupun zhahir. 
  • Kami mengimani bahwa seorang yang mentauhidkan Allah tidak dapat dikafirkan hanya dengan mengerjakan satu bentuk dosa besar selain syirik, kecuali jika ia menghalalkan ( dosa tersebut ). Akan tetapi ( seorang yang bertauhid lalu bebuat dosa selain syirik-pen ) dia di dunia termasuk orang yang fasik dan di akhirat dia  berada dibawah masyi’ah (kehendak ) Allah. Jika Allah menghendaki maka Ia akan mengadzabnya, dan jika Ia menghendaki maka ia ( langsung ) diampuni, dan tempat kembali akhirnya adalah surga disebabkan Tauhid yang ia miliki.  Dan bahwa maksiat yang dilakukannya menyebabkan mudharat bagi agama dan balasannya. Allah Ta’ala berfirman :
            إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” ( An Nisa’ : 48 )
Dan Allah juga berfirman :
       الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” ( Al An’am : 82 )
  • Kami mengimani adanya pemberian syafa'at dari orang-orang yang dibolehkan memberi syafa’at dari kalangan ummat Muhammad saw kepada pelaku dosa besar  adalah benar, akan tetapi bergantung pada kehendak Allah dan ridho-Nya, Allah Ta’ala berfirman :
                           مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
“Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” ( Al baqarah : 255 )
Dan Ia juga berfirman :
                وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ
“Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” ( Al Anbiya’ : 28 )
Dan kami berlepas diri kepada Allah dari perkataan Mu'tazilah, Khawarij dan Murji’ah ( dalam masalah ini ).

IV. SIKAP TERHADAP SAHABAT

·         Kami mengimani bahwa sebaik-baik makhluq sesudah Rasulullah saw adalah para sahabat Rasululullah saw,

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu'min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” ( Al Fath : 29 )
Dan bahwa mereka telah memperoleh kemuliaan yang paling utama dengan menjadi sahabat  Rasulullah saw. 
·         Dan kami memberikan loyalitas kepada para sahabat –radhiallahu ‘anhum- dan mencintai serta menyatakan keridhaan ( Allah ) kepada mereka, juga pada para ummahatul mukminin. Dan kami meyakini  akan bersihnya Ummul Mukminin Aisyah –radhiallahu ‘anha- dari apa yang dituduhkan kepada beliau oleh kaum Rafidhah.


وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” ( At Taubah : 100 )
Dan kami menahan diri (dari membicarakan) perselisihan (yang terjadi) antara para sahabat, serta tidak menyibukkkan diri (membicarakan)nya. Dan kami meyakini ke’adalahan para sahabat, dan kesalahan yang mereka lakukan boleh jadi termasuk dalam hal-hal yang dibolehkan berijtihad didalamnya, maka  mereka berkisar antara satu pahala (bila salah ijtihad) dan dua pahala (bila ijtihad mereka benar). Dan boleh jadi ( kesalahan mereka ) tidak termasuk dalam ( kategori ) itu, maka ( dalam hal seperti ini ) kesalahan mereka lebur dalam lautan keutamaan mereka.
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang". ( Al Hasyr : 100 )
·         Dan kami berkeyakinan bahwa urutan mereka dalam hal keutamaan dan kekhalifahan adalah sebagai berikut : Abu Bakar , kemudian Umar , kemudian Utsman , kemudian Ali –semoga Allah meridhai mereka semua-, dan kami mengedepankankan Ahli Badar serta Ahli Baiatur Ridhwan atas selainnya, dan mendahulukan kaum Muhajirin atas kaum Anshar. Dan kami bersaksi atas sepuluh sahabat ( bahwa mereka telah dijamin) dengan surga. Kami berlepas diri dari golongan An-Nawashib dan Ar-Rafidhah, serta meyakini kekufuran orang-orang yang melemparkan tuduhan dan cacian pada Ummul Mukminin Aisyah, serta kekufuran orang yang mendiskreditkan kedudukan para sahabat atau mengingkari ke’adalahan mereka.

V.  KAROMAH PARA WALI

·         Kami mengimani bahwa Allah Jalla wa ‘Alaa terkadang memuliakan/mengaruniakan hamba-hambanya yang shalih dengan hal-hal yang luar biasa, walaupun kami  memandang bahwa hal tersebut bukanlah merupakan syarat kewalian dan tidak pula menjadi bukti satu-satunya ( untuk menunjukkan kewalian seseorang ), akan tetapi kewalian adalah sesuatu yang bisa dicapai oleh setiap yang ta’at sesuai dengan ( keta’atannya ), dan  dijauhkan dari orang yang menyimpang sesuai dengan (penyimpangan)nya. Ketiadaan karamah tidaklah membawa mudharat kepada orang yang ta’at, sebagaimana penampakan perbuatan-perbuatan syetan melalui tangan para dajjal dan dukun sihir tidak membawa manfaat bagi mereka . Dan kami berlepas diri dari segala khurafat golongan Rafidhah dan kaum Sufi.

VI. JAMA’AH  DINIYAH

·         Kami mengimani bahwasanya Al Jama’ah itu adalah para sahabat Rasulullah saw dan siapa saja yang menempuh jalan mereka dari kalangan para imam ( para ulama ) yang membawa petunjuk, dan kami meyakini haramnya keluar dari jalan mereka dan (bahwa) bahwa barang siapa yang keluar dari jalan mereka, maka ia akan mendapatkan penyimpangan dan kesesatan yang sesuai dengan ( kadar ) keluarnya ( dari jalan itu )
·         Dan kami mengimani bahwa factor-faktor yang mengharuskan ( ? ) ……… itu bermacam-macam sebagaimana beragamnya ahlul qiblah ( kaum muslimin ). Maka kalangan awam umat islam harus didudukkan sesuai atas Al Qur'an dan As Sunnah serta ijma'. Dan hendaknya tidak menguji (mereka) dengan makna-makna yang dalam dan masalah-masalah yang rumit dan bahwasanya (kondisi) asal mereka (adalah) benarnya tujuan dan keyakinan, maka tidak boleh keluar dari asal tersebut kecuali dengan dalil.
·         Dan kami meyakini  haramnya penghalalan darah mereka, atau kehormatan mereka atau harta mereka kecuali sesuai dengan hak (yang semestinya)nya. Nabi saw bersabda :
لا يحل  دم امرئ مسلم الا باحدى ثلاث : النفس بالنفس و الثيب الزاني و التارك لدينهالمفارق للجماعة
“Tidak halal darah seorang muslim, kecuali dengan salah satu dari tiga perkara : Orang yang membunuh satu jiwa, pezina yang telah menikah, dan orang yang meninggalkan agamanya berpisah dari jama’ah.” ( HR. Bukhari )
Dan juga haramnya (melakukan) pengkafiran terhadap pelaku maksiat dari ( kalangan kaum muslimin), dan tidak boleh memastikan seseorang dengan ( jaminan )surga ataupun  neraka.
·         Dan kami meyakini tidak bolehnya menyempal dari mereka dengan sebuah ikatan komitmen selain  Islam dan Sunnah, dan kami meyakini wajibnya al wala' dan al bara’ karena Allah dan menjauhkan diri dari segala bentuk fanatisme (ta'ashshub) seperti fanatisme terhadap mazhab, partai dan syiar-syiar tertentu. Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ(55)
وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ
“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” ( Al Maidah : 55-56 )
Ia juga berfirman :
    إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” ( Al Hujuraat : 10 )
·         Dan kami meyakini  para ulama itu diantaranya ada yang wajib untuk ditaati dalam kebaikan ( ma’ruf ), terutama dalam persoalan-persoalan kontemporer yang besar dan ( yang berkaitan dengan ) kemaslahatan umum,dan  wajib mencintai  dan memuji mereka tanpa berlebih-lebihan atau melakukan pengkultusan, dan wajib untuk menghargai dan menjauhkan diri dari meperolok-olok mereka dikarenakan berpegangteguhnya mereka  kepada sunnah, atau melemparkan tuduhan yang tidak ada pada diri mereka. Dan ( yang kami maksudkan dengan ) ulama adalah mereka yang para ulama As Sunnah dan pengikut kaum salaf.
Dan adapun  ahlul bid'ah maka mereka wajib dibenci  sesuai dengan kadar kebid'ahan mereka. Maka seorang mubtadi’ yang kafir harus dibenci dari segala sisi, sedangkan seorang mubtadi’ yang muslim dibenci dari satu sisi dan dicintai dari sisi lain. Dan wajib mengisolir mereka dalam hal pergaulan untuk menjaga diri dari keburukan mereka kecuali dalam keadaan darurat yang syar'i, adapun yang menyangkut pengisoliran yang dimaksudkan untuk memberi pelajaran (hajru at-ta'dib), maka hal itu dikembalikan kepada pandangan ulama, karena perbedaan perlakuan didasarkan pada perbedaan jenis bid'ah, pelaku, waktu, tempat dan keadaa. Dan diharamkan melakukan perdabatan dengan mubtadi’, kecuali bagi mereka yang memiliki dasar ilmu yang cukup bila dibutuhkan untuk merealisasikan sebuah maslahat syar'i.
·         Dan kami meyakini bahwa menmberikan peringatan ( Tahdzir ) terhadap para du'at dari kalangan ahlul bid'ah adalah suatu kewajiban  bagi para ulama. Dan menjauhkan diri dari memberikan pujian kepada mubtadi’, agar manusia tidak terpedaya ( dengan mereka ) kecuali bila keadaan menuntut hal itu.
Dan kami menyakini bahwasanya firqah-firqah yang keluar dari kebenaran dan pendukung-pendukungnya itu terancam berada di neraka, dan mereka secara umum sama dengan orang orang- (pelaku dosa besar) orang yang terancam. Mereka di akhirat bergantung pada masyi'ah ( kehendak ) Allah –, dan bahwasanya firqah-firqah yang murtad seperti Rafidhah, dan Jahmiah (telah) keluar dari Islam.

VII.  AL JAMA'AH AS SULTHANIYYAH

·         Dan kami berkeyakinan bahwa Al Imamah Al Kubra ( kepemimpinan tertinggi ) itu ditetapkan dengan ijma'  (kaum muslimin) dan dengan bai'at ahlul halli wal aqdi dari kalangan mereka (kaum muslimin). Dan bahwasanya barang siapa yang berkuasa dengan kekuatan lalu kalimat ( kaum muslimin ) bersatu atasnya dan disertai dengan penegakan syari’at Allah, maka ia berhak memegang  Al Imamah Al Kubra walaupun dengan kezhaliman dan kekejamannya..
·         Dan kami mengimani bahwa hal-hal yang menjadi konsekwensi dari ijma' sulthani (kesepakatan terhadap seorang penguasa) adalah adanya keyakinan ( pemberian ) bai'at kepada sang penguasa muslim pada  pundak setiap orang yang berada dibawah kekuasaannya, dan tidak bolehnya memberontak atasnya walaupun ia melakukan kezaliman selama ia belum dihukum kafir, yang ada kejelasan argumentasinya dari Allah, dan haramnya menduakan bai'at kepadanya dengan bai'at lain yang bid'ah atau menandinginya dalam perkara yang merupakan hak prerogatif kepemimpinanya; seperti penegakan hukum hudud, atau menentang perintahnya yang ma'ruf . Bahkan mena’atinya dalam hal yang ma'ruf itu wajib, dan menasehatinya dalam kebenaran adalah satu keharusan bagi orang yang pantas melakukannya. Nabi saw bersabda :
الدين النصيحة – ثلاثا - ...تم قال : لله ولرسوله ولكتابه ولأئمة المسلمين و عامتهم
“Agama itu adalah nasehat –beliau mengualnginya tiga kali-, lalu berkata : kepada Allah, RasulNya, KitabNya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum awam mereka.”
Dan memanjatkan do’a yang bersifat mutlak ( umum ) demi kebaikan untuknya dan keselamatan  adalah sesuatu yang disyariatkan.



VIII. DAKWAH KE JALAN ALLAH

·         Dan kami meyakini bahwa da'wah kepada Allah adalah misi yang paling mulia, dan bahwa sarana-sarananya ( Al Wasaail ) bermacam-macam sesuai dengan kondisi dan pribadi, akan tetapi hal  itu diikat dengan kaidah-kaidah syariat baik yang bersifat fiqhiyah maupun ‘aqa’idiyah. Dan segala sarana dalam da'wah yang menyelisihi kaidah-kaidah syara' atau salah satu dari nash-nashnya maka ia adalah sarana yang haram. Dan kami pun berkeyakinan bahwa tujuan-tujuan da'wah itu ada empat yaitu: menunjukkan hidayah kepada manusia, menegakkan hujjah kepada orang yang membangkang, menunaikan amanah dan meninggikan kalimatullah di atas bumi ini. Dan bahwa buahnya adalah mewujudkan pribadi muslim  dan masyarakat yang shaleh di dunia dan mendapat kemenangan ridha Allah di akhirat dengan tauhid.
·         Dan kami meyakini bahwa wajib memulai da’wah dengan perkara yang terpenting, dan Tauhid adalah awal dan akhir . dan setiap perkara harus dikaitkan dengan Tauhid. Dan kami berlepas diri dari segala bentuk da'wah yang tidak memperhatikan tauhid.
·         Dan kami meyakini bahwa berbilangnya jama'ah-jama'ah da'wah dalam bentuk variatif saja namun tetap dengan kesamaan aqidah adalah hal yang boleh dengan syarat tidak adanya sikap ta'asshub (fanatik) terhadap satu kelompok. Adapun berbilangnya  jama’ah da’wah  ( yang berdasarkan pada ) perbedaan aqidah adalah hal yang dilarang. Dan yang bersalah ( dalam hal itu ) adalah yang menyelisihi ahlul haq. Dan merupakan kewajiban bagi semuanya untuk beriltizam dengan aqidah salaf dalam segi ilmu, amal dan da'wah.
·         Dan kami meyakini akan keharaman ( pemberian ) al wala' dan al bara' yang didasarkan pada ikatan-ikatan yang bid'ah, dan juga keharaman untuk mengangkat orang bodoh atau mubtadi'ah sebagai pemimpin, dan batilnya segala bentuk bai'at bid'ah yang tegak atas dasar As Sam'u wat Tha'ah/ yang berkonsekwensi keta’atan dalam perkara yang ma’ruf kepada orang dijadikan oleh jama'ah itu sebagai pemimpin atau imamnya.
·         Dan kami berlepas diri kepada Allah dari segala macam bentuk sikap ghuluw dalam da'wah seperti pengkafiran masyarakat Islam, atau perintah untuk mengasingkan diri dari mereka, atau melakukan tindakan kekerasan di tempat selain medan jihad, seperti: melakukan pembunuhan terhadap orang yang tidak sepaham, baik dari kalangan kaum muslimin ataupun orang kafir muaahad (yang ada dalam perjanjian/perlindungan), atau melakukan peledakan sarana-sarana umum/pemerintahan, atau yang semacamnya.
·         Dan kami mengimani bahwa bahwa berjihad melawan orang-orang kafir  tetap berlaku sampai hari kiamat bersama para pemimpin kaum muslimin baik yang sholeh maupun yang fajir. Dan barang siapa yang mati dan belum pernah berperang (dijalan Allah) dan belum pernah berniat untuk berperang (dijalan Allah) maka ia mati dalam salah satu cabang kemunafikan.

IX. CIRI-CIRI UMUM

·       Dan kami meyakini bahwa diantara ciri-ciri ahlul haq adalah sangat mementingkan thalabul ilmi, terutama lagi ilmu-ilmu aqidah dalam bentuk pengetahuan dan pengamalan, dan kami mengajak untuk memberikan perhatian kepada kitab-kitab salaf seperti Ushulul Sunnah yang ditulis oleh Abdullah bin Ahmad, Asy Syari'ah yang  ditulis oleh Al Ajurri, At Tauhid yang ditulis oleh Ibnu Khuzaimah, Al Iman yang ditulis oleh Ibnu Mandah, dan Khalqu Af'alil 'Ibad yang ditulis oleh Al Bukhari dan Kitab-kitab yang ditulis oleh Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyah) dan Ibnu Qayyim serta para murid-murid keduanya, dan siapapun yang berjalan di atas jalan mereka dari kalangan ulama masa kini.
·        Dan kami berkeyakinan bahwa diantara ciri-ciri ahlul haq adalah sikap inshaf ('adil) terhadap orang yang berselisih paham denganya dengan tidak mengurangi sesuatu dari hak-haknya dan tidak menuduhnya dengan sesuatu yang tidak ada padanya atau berkata yang tidak benar tentangnya. Adapun penyebutan kebaikan-kebaikannya kepada khalayak ramai ketika mentahdzir, maka dikembalikan kepada pertimbangan mashlahat tentang hal itu. Maka ulama ahlus sunnah (perlu ) disebutkan kebaikan-kebaikannya agar mereka tidak dianggap rendah dalam pandangan orang, sementara ahlul bid'ah tidak disebutkan kebaikan-kebaikannya agar orang tidak tertipu dengan mereka.
·       Dan kami berkeyakinan bahwa diantara ciri-ciri ahlul haq adalah menampakkan da'wah kebenaran dan tidak mempergunakan sirriyah kecuali jika dibutuhkan dalam keadaan mendesak, tidak sebagaimana ahlul bathil yang menjadikan sirriyah sebagai manhaj dalam da'wah mereka dan beriltizam dengannya pada semua keadaan.
·       Dan kami berkeyakinan bahwa salah satu ciri ahlul haq adalah menjauhkan diri dari menggerakkan hal-hal yang menimbulkan fitnah, yang dapat memberikan mudharat bagi manusia, terhadap agama dan kehidupan dunia mereka. Dan kami mengambil pelajaran ( memandang ??? ) tentang hal ini dari manhaj para ulama besar kami yang terdahulu maupun sekarang.
·       Dan kami berkeyakinan bahwa diantara ciri-ciri ahlul haq adalah tidak menjadikan politik sebagai orientasi utama ( kebiasaan ??? ) kecuali yang dibutuhkan saja dengan bentuk yang tidak menimbulkan fitnah.
·       Dan kami berkeyakinan bahwa diantara ciri-ciri ahlul haq adalah saling nasehat menasehati dengan kebenaran, dan selalu menjaga pelaksanaan berbagai kewajiban, dan menjauhkan diri dari kemungkaran, dan selalu berusaha untuk menyatukan kaum muslimin diatas kebenaran, dan selalu memperhatikan problematika kaum muslimin, dan bersikap kasih sayang terhadap kaum dhu'afa dari kalangan mereka, dan menolong orang-orang yang terzhalimi dari kalangan mereka, dan berakhlak dengan akhlak yang mulia dan membersihkan diri dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat ( sia-sia ).
Read More..